Laporan
Analisis Kebutuhan English for Mining pada Industri Pertambangan Nikel: Implikasi terhadap Pengembangan Kurikulum English for Specific Purposes di Perguruan Tinggi
Abstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan bahasa Inggris (English for Mining) pada industri pertambangan nikel sebagai dasar pengembangan kurikulum pembelajaran di perguruan tinggi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis kebutuhan (needs analysis). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada beberapa perusahaan pertambangan nikel serta program studi yang terkait dengan bidang pertambangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Inggris telah menjadi bagian penting dari komunikasi profesional di lingkungan industri pertambangan. Bahasa Inggris digunakan dalam berbagai aktivitas kerja, seperti meeting, briefing, komunikasi dengan tenaga kerja asing, penyampaian instruksi kerja, pembacaan Standard Operating Procedures (SOP), penyusunan laporan, komunikasi melalui surat elektronik, presentasi, serta pendampingan tamu internasional. Tingkat kebutuhan setiap keterampilan bahasa berbeda pada masing-masing divisi pekerjaan, namun secara umum kemampuan speaking, listening, reading, writing, dan penguasaan technical vocabulary merupakan kompetensi yang paling dibutuhkan.
Penelitian juga menemukan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Kesenjangan tersebut terutama terlihat pada kemampuan komunikasi lisan, penguasaan kosakata teknis pertambangan, pemahaman dokumen teknis, komunikasi keselamatan kerja, dan pengalaman menggunakan bahasa Inggris dalam situasi kerja yang nyata. Selain itu, pelatihan bahasa Inggris yang tersedia di perusahaan masih belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan komunikasi profesional di lingkungan pertambangan.
Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menghasilkan lima luaran utama, yaitu: (1) Model Kompetensi English for Mining, (2) Peta Kebutuhan Kompetensi Bahasa Inggris Industri Nikel, (3) Matriks Kesenjangan antara Kompetensi Lulusan dan Kebutuhan Industri, (4) Rekomendasi Kurikulum Mata Kuliah English for Mining di Perguruan Tinggi, dan (5) Workplace-Based English for Mining Learning Model (WBEML). Kelima luaran tersebut dirancang untuk mendukung pengembangan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih relevan dengan kebutuhan industri pertambangan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan English for Mining perlu menerapkan pendekatan English for Specific Purposes (ESP) yang berbasis analisis kebutuhan industri (industry-driven needs analysis). Kurikulum dan pembelajaran hendaknya mengintegrasikan komunikasi profesional, kosakata teknis pertambangan, komunikasi keselamatan kerja, literasi dokumen teknis, serta komunikasi lintas budaya melalui pembelajaran berbasis situasi kerja (workplace-based learning). Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki kompetensi bahasa Inggris yang sesuai dengan tuntutan industri pertambangan nikel serta mampu meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia pada sektor mineral kritis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Inggris telah menjadi bagian penting dari komunikasi profesional di lingkungan industri pertambangan. Bahasa Inggris digunakan dalam berbagai aktivitas kerja, seperti meeting, briefing, komunikasi dengan tenaga kerja asing, penyampaian instruksi kerja, pembacaan Standard Operating Procedures (SOP), penyusunan laporan, komunikasi melalui surat elektronik, presentasi, serta pendampingan tamu internasional. Tingkat kebutuhan setiap keterampilan bahasa berbeda pada masing-masing divisi pekerjaan, namun secara umum kemampuan speaking, listening, reading, writing, dan penguasaan technical vocabulary merupakan kompetensi yang paling dibutuhkan.
Penelitian juga menemukan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri. Kesenjangan tersebut terutama terlihat pada kemampuan komunikasi lisan, penguasaan kosakata teknis pertambangan, pemahaman dokumen teknis, komunikasi keselamatan kerja, dan pengalaman menggunakan bahasa Inggris dalam situasi kerja yang nyata. Selain itu, pelatihan bahasa Inggris yang tersedia di perusahaan masih belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan komunikasi profesional di lingkungan pertambangan.
Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menghasilkan lima luaran utama, yaitu: (1) Model Kompetensi English for Mining, (2) Peta Kebutuhan Kompetensi Bahasa Inggris Industri Nikel, (3) Matriks Kesenjangan antara Kompetensi Lulusan dan Kebutuhan Industri, (4) Rekomendasi Kurikulum Mata Kuliah English for Mining di Perguruan Tinggi, dan (5) Workplace-Based English for Mining Learning Model (WBEML). Kelima luaran tersebut dirancang untuk mendukung pengembangan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih relevan dengan kebutuhan industri pertambangan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan English for Mining perlu menerapkan pendekatan English for Specific Purposes (ESP) yang berbasis analisis kebutuhan industri (industry-driven needs analysis). Kurikulum dan pembelajaran hendaknya mengintegrasikan komunikasi profesional, kosakata teknis pertambangan, komunikasi keselamatan kerja, literasi dokumen teknis, serta komunikasi lintas budaya melalui pembelajaran berbasis situasi kerja (workplace-based learning). Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki kompetensi bahasa Inggris yang sesuai dengan tuntutan industri pertambangan nikel serta mampu meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia pada sektor mineral kritis.
Metadata
| Tahun | 2026 |
|---|---|
| Fakultas | Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan |
| Program Studi | Pendidikan Bahasa Inggris |
| Status Akses | Restricted |
| URI | https://repository.usn.ac.id/detail.php?id=20 |
Unduh File
File tidak dapat diakses secara publik pada saat ini.